Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rupiah Melemah, Fundamental Dipertanyakan?

Hari ini, Kamis 28 Mei 2026, rupiah kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah moneter Indonesia. Di pasar spot, mata uang kita diperdagangkan di kisaran Rp17.846 hingga Rp17.876 per dolar AS. Bukan angka yang nyaman untuk dilihat.

Sebelum kita bicara lebih jauh, satu hal perlu diluruskan dulu yakni, Bank Indonesia sudah bekerja keras. BI bukan tidak melakukan apa-apa, mereka sudah menggunakan cadangan devisa untuk intervensi di pasar valuta asing, sudah membatasi pembelian dolar dan sudah beroperasi di pasar SBN. Puncaknya terjadi pada 19-20 Mei lalu, BI mengambil langkah yang cukup mengejutkan pasar yakni menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin sehingga menjadi 5,25%. Ini kenaikan terbesar dalam satu langkah dalam beberapa tahun terakhir, dan ini sinyal serius dari bank sentral kita.

Tapi rupiah tetap melemah. Bahkan setelah semua itu. Lalu apa yang salah? Atau lebih tepatnya apa yang belum cukup?


BI Bisa Menstabilkan, tapi Tidak Bisa Menguatkan Sendirian

Di sinilah kita perlu memahami satu batasan yang sangat fundamental. Tugas BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan menguatkan rupiah secara fundamental. Dua hal itu terdengar mirip, tapi sangat berbeda maknanya.

Menstabilkan artinya mencegah rupiah jatuh terlalu cepat dan terlalu dalam, seperti pasang rem darurat. Menguatkan secara fundamental artinya membuat rupiah benar-benar punya alasan untuk menguat dan itu tidak bisa diciptakan oleh instrumen moneter semata.

Ada analogi yang mungkin berguna di sini, bayangkan sungai yang airnya keruh. Memasang filter di tengah aliran bisa sedikit membantu. Tapi selama sumber kekotorannya di hulu tidak dibereskan, filter itu tidak akan pernah cukup. BI adalah filter itu. Sangat berguna, tapi tidak bisa bekerja sendirian.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang bertanggung jawab membersihkan hulunya?

Masalah Sebenarnya: Kepercayaan yang Sedang Diuji

Kalau kita mau jujur, pelemahan rupiah yang kita alami saat ini bukan murni soal gejolak global. Ya, faktor eksternal memang nyata seperti konflik di Timur Tengah, penguatan dolar, harga minyak yang tinggi, semuanya menciptakan tekanan besar pada hampir semua mata uang Asia hari ini. Tapi coba perhatikan, ringgit Malaysia 0,35%, baht Thailand 0,25%. Sedangkan rupiah? Turun hingga 0,42%, berada di posisi kedua terlemah di Asia saat ini. Faktor global itu sama. Mengapa dampaknya terasa lebih dalam untuk kita?

Jawabannya menurut saya ada pada satu kata, yaitu kepercayaan.

Capital outflow pada saham sebenarnya sudah mulai bergerak sejak akhir 2024, jauh sebelum krisis geopolitik saat ini memanas. Artinya, investor asing sudah lebih dulu memutuskan untuk memindahkan uangnya keluar dari sini. Ini juga terlihat jelas dari data kepemilikan asing di SBN kini tinggal sekitar 12%, merosot dramatis dari angka di atas 35% sebelum pandemi. Itu bukan penurunan kecil. Itu sinyal yang seharusnya sudah lama membuat kita waspada.

Perlu kita ingat, investasi itu pada dasarnya adalah ilmu forecasting. Investor tidak hanya melihat kondisi hari ini, tapi mereka merespons asumsi tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Jika sinyal ke depan terasa tidak meyakinkan, mereka tidak menunggu kepastian. Mereka bergerak duluan.

Soal Pertumbuhan Ekonomi yang Perlu Kita Bedah Lebih Dalam

Ada hal menarik yang perlu didiskusikan di sini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 secara yoy mencapai 5,61%. Sebuah angka yang luar biasa di tengah ketidakpastian global, dan kita semua patut mengapresiasinya.

Tapi kalau kita bedah lebih dalam, ada cerita yang lebih kompleks di balik angka itu. Pertumbuhan ini banyak ditopang oleh lonjakan belanja pemerintah yang jauh di atas rata-rata tahun-tahun sebelumnya. Ini selaras dengan berbagai program besar yang sedang dijalankan pemerintah saat ini, dan dari sudut kebijakan publik, itu adalah pilihan yang sah.

Masalahnya, investor melihat ini dengan kacamata yang berbeda. Defisit APBN kita hingga kuartal I 2026 sudah melampaui Rp240 triliun atau sekitar 0,93 persen PDB. Ditambah lagi, realisasi penerimaan pajak tahun 2025 tidak memenuhi target. Jadi pertanyaan yang wajar muncul di benak investor, "Kalau pengeluaran terus besar sementara penerimaan belum optimal, bagaimana keberlanjutan fiskal ini dalam jangka menengah?".

Sekali lagi, ini bukan soal salah atau benar. Ini soal sinyal yang diterima pasar dan sejauh ini sinyal itu belum cukup meyakinkan.

Satu Ancaman Lagi yang Harus Diantisipasi

Ada satu skenario yang perlu masuk dalam radar kewaspadaan kita, dan ini serius. The Fed saat ini masih menahan suku bunganya di kisaran 3,5%–3,75%. Kondisi ini saja sudah cukup memberi tekanan pada rupiah karena selisih imbal hasil antara aset Indonesia dan aset AS menjadi lebih sempit.

Sekarang bayangkan jika The Fed suatu saat memutuskan untuk menaikkan suku bunganya. Modal asing yang sudah tipis di sini berpotensi semakin deras mengalir keluar. Kalau kondisi sekarang saja sudah begini beratnya, bayangkan tekanannya nanti jika mereka kembali mengetatkan. Ini bukan skenario mustahil, dan pemerintah perlu menyiapkan respons jauh sebelum itu terjadi.

Jadi, Apa yang Perlu Dilakukan?

BI sudah melakukan tugasnya dan dengan sangat serius. Kenaikan suku bunga 50 bps itu bukan keputusan mudah, itu mengorbankan momentum pertumbuhan demi stabilitas. Saya mengapresiasi untuk itu.

Tapi pemerintah tidak bisa terus bersandar pada BI seorang diri. Moneter itu memang ranah BI, dan BI tidak perlu didikte. Yang pemerintah bisa lakukan dan harus lakukan adalah membangun kembali kepercayaan investor dari sisi yang lebih fundamental.

Itu artinya, kepastian hukum yang tidak gampang berubah sesuai kepentingan sesaat, arah kebijakan ekonomi yang konsisten dan bisa dibaca oleh pasar, disiplin fiskal yang tidak hanya terlihat di atas kertas, dan komunikasi kebijakan yang transparan bukan reaktif.


Pelemahan rupiah hari ini bukan bencana yang tak bisa dipulihkan. Tapi ini adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. BI sudah menyalakan lampu peringatan. Sekarang giliran pemerintah untuk bergerak.


Posting Komentar untuk "Rupiah Melemah, Fundamental Dipertanyakan?"